Monday, March 23, 2015

Tugas perkuliahan 20 maret 2015

pertemuan ke 5 creative thinking
dalam pertemuan kali ini, kelas kreatif thinking mengambil topik :

Revolusi Sistem Pendidikan, Pendidikan Industrialis dan Kecerdasan Majemuk

sesuai dengan presentator kelas creative thinking 20 maret 2015, bahwa kecerdasan majemuk seharusnya lebih di hargai dibandingkan cara penilaian kecerdasan pendidikan secara industrialis. kecerdasan majemuk ini sesuai dengan penuturan dari Howard Gardner mengenai 8 jenis kecerdasan.
pastinya ga asing lagi dengan quote ini: 

'Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.' - Einstein

kata-kata ini mengajarkan kita bahwa kecerdasan manusia tidak dapat diukur hanya dari satu sudut pandang saja. Kata - kata ini juga memihak pada kecerdasan majemuk. Tentunya kita tahu kalau ilmu pengetahuan ada sosial dan eksakta.

Dulu orang beranggapan bahwa pendidikan / mapel eksakta (IPA) itu jadi tolak ukur kecerdasan seorang anak, tidak heran jika anak - anak sekolah tertekan karena diwajibkan untuk belajar eksakta sampai tingkat lanjut, padahal minat masing-masing mereka lebih ke arah sosial. bahkan sampai sekarang masyarakat masih membanding-bandingkan IPA/IPS, menganggap orang IPA lah yang pintar, jenius dan mereka menganggap IPS mudah dipelajari jadi "Nothing Special" 

Seharusnya mereka lebih menghargai kecerdasan majemuk, karena kecerdasan itu berbeda-beda sama seperti kreatifitas kita masing-masing. Kita pasti memiliki kreatifitas, ide dan minat yang berbeda-beda, jadi seharusnya kita lebih menghargai perbedaan ini. 

1 comment:

  1. Kecerdasan seseorang apapun jenisnya akan berarti bila ditunjang oleh pendidikan yang tepat. Penyelenggara pendidikan punya visi sendiri. Untuk mendukung politik etis, pemerintah Hindia Belanda membuka sistem pendidikan modern untuk menghasilkan tenaga terampil untuk mengisi posisi lowong di birokrasi, di tingkat menengah dan rendah, serta mendukung ekonomi perkebunan.

    Saat mendirikan negara Republik Indonesia, mendiang Presiden Soekarno memilih ilmu-ilmu dasar sebagai pokok pendidikan agar negara punya kelompok ilmuwan yang menguasai ilmu dasar dan mampu mengembangkan teknologi.

    Jaman berganti kekuasaan Soeharto berpikir pragmatis dalam menjalankan sistem pendidikan. Orientasi pendidikan berpindah ke Amerika Serikat dari sebelumnya yang berorientasi ke Eropa daratan.

    Mana yang lebih cocok untuk memperkuat Indonesia ke depan?
    Kenapa sekarang anak muda memilih belajar ilmu-ilmu marketing? apakah mereka hanya akan bekerja untuk perusahaan asing yang mencari pasar di dalam negeri Indonesia?


    ReplyDelete